Surat Terakhir

Posted: Oktober 1, 2009 in CerPen''Quwh

Surat Terakhir

Untuk Rifky dan Ibu Tersayang

Rif gimana kabarmu dan Ibu baik-baik aja kan? Kakak disini dalam keadaan baik walaupun tak sebaik waktu kita bersama dulu sebentar lagi kakak akan masuk perguruan tinggi doakan ya!! Semoga kakak  sukses, salam untuk Ibu tersayang.

Leo

Itu surat pertama dari kakakku di Jakarta, pesan yang singkat tapi punya makna tersendiri, karena sudah delapan bulan tak bertemu. Ayah dan ibu berpisah ayah yang membesarkan kakakku Leo, dan aku tinggal bersama ibu tinggal di rumah sederhana ini dengan udara sejuk di kaki pegunungan meling Yogyakarta.

Aku tak habis pikir mengapa ayah tega  berpisah dengan ibu padahal menurutku apa yang kurang dari ibuku dia wanita yang shalehah, lembut, baik hati, penyayang, penyabar dan kata indah lain sangat cocok untuk ibu. Semoga keadaan kak Leo disana lebih baik dari pada keadaanku, aku tau ibu sangat lelah mencari uang untuk kebutuhan hidup yang sangat banyak.  Pagi harinya ibu berjualan nasi, Alhamdulillah ibu selalu diminta bantuan membuat pesanan catering juga membantu membuat masakan kalau ada para tetangga yang mengadakan pesta hajatan, siang harinya ibu membuat kue-kue kecil  seperti pisang goreng, lemper, tahu dan bakwan goreng aku juga ikut membantu ibu menitipkan dagangan disetiap warung.

Alhamdulillah dari hasil menjual makanan itu ibu selalu mendapat keuntungan yang lumayan cukup untuk tambah-tambah penghasilan. Sekarang aku baru mau kenaikan kekelas tiga SMA sudah kubayangkan pasti biaya sekolahku sangat besar, kemarin lalu saja aku sampai malu ditagih uang spp yang nunggak sampai dua bulan, karena ibuku sedang sakit maka penghasilan ibuku pun berkurang.

Andai ayah dan ibu tak bercerai mungkin hidupku akan lebih baik dari pada saat ini aku sedih tak dapat membantu ibu, sempat terpikir olehku untuk mencari kerja, kerja                                                                                                                                            apalah yang penting kan halal tapi ibu selalu menolak apalagi bila kukukatakan akan mencari kerja di Jakarta ibu tak mengijinkanku bekerja di Jakarta ibu selalu menasehatiku kalau di Jakarta itu kehidupannya keras banyak rintangan yang menghadang, banyak orang yang tak berfikir panjang untuk melakukan sesuatu. Disana banyak orang yang hanya jadi pengangguran jangankan lulusan SMA lulusan perguruan tinggi dan menyandang gelar sarjana saja banyak yang hanya ongkang-ongkang kaki alias jadi pengangguran.

Banyak juga yang bekerja tidak halal seperti mencopet, menjambret bahkan merampok kadangkala mereka tak segan-segan menyakiti korbannya jika tak mau mengikuti keinginannya, bagi mereka yang penting makan kenyang dari mana ia dapat uang itu tak penting mau halal atau haram. Apalagi yang paling ditakuti banyak orang yang terjerumus itu tak mau sadar dan mohon ampun pada yang Kuasa, masa bodoh tentang semua itu mereka tak memikirkan masa depannya. Tapi kupikir selain keburukan-keburukan yang ada masa’ tak ada segi positifnya. yah  mungkin memang ada tapi sedikit.

Orang yang hidup di kota besar seperti Jakarta harus dapat bertahan bukan hanya kuat badan saja ataupun banyak uang tapi harus punya ilmu yang berguna apalah artinya kuat dan banyak uang tanpa ilmu, karena dengan ilmu yang benar Insya Allah kita akan berfikir matang untuk setiap apa yang kita lakukan.

JJJ

Akhirnya keinginanku untuk bekerja di Jakarta aku tunda dulu sampai sudah cukup bekal untuk pergi kesana.  Kebutuhan hidupku sangatlah banyak dengan usaha berjualan menurutku masih kurang. Aku tak bisa minta macam-macam dari ibu karena aku tak enak hati bila terus minta uang pada ibu, ternyata mencari uang halal itu sulit kita harus berusaha optimal untuk hasil yang optimal memang ibu tak pernah mengeluh tentang keadaan yang serba sulit ibu selalu bersyukur dengan apa yang diperolehnya tapi aku tau ibu sangat lelah setiap hari bekerja menafkahiku, memberi makan, memberi uang transport sekolah, uang spp dan yang lain-lainnya.

Banyak sekali kesulitan yang kuhadapi setelah ortuku bercerai prestasi belajarku menurun tapi ada juga hikmah yang dapat kuambil dari perceraian ortuku sekarang aku harus  hidup mandiri, harus selalu menurut perintah ibu dan rajin melakukan hal-hal yang

baik.

Ayah dan kakak tinggal di Jakarta semoga kakakku bahagia tinggal disana bersama ayah dan keluarga barunya.  Dalam masalah tanggungan anak aku lebih memilih hidup bersama ibu dari pada ayah karena selain aku lebih dekat dengan ibu aku takut dengan ibu tiri, aku takut kalau-kalau ibu tiriku tak menyayangiku seperti apa yang selama ini kubayangkan.

“tok..tok..tok.., Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”  jawabku singkat.

Ibuku terlihat sangat lelah setelah bekerja.

“maaf ibu baru pulang”

“tak apa bu.., yang penting ibu pulang dalam keadaan sehat”

“ini…..”  kata ibu sambil menyodorkan sejumlah uang.

“apa bu?,  ini untuk apa?’’

“uang itu untuk bayaran sekolahmu yang telat dua bulan, maafkan ibu..ibu baru

bisa memberinya sekarang’’

“Alhamdulillah ibu dapat rejeki’’

“iya,  syukur  Alhamdulillah  ibu  dapat  untung  banyak  dari  berjualan dan dari

upah membantu memasak lumayan besar…’’

“ya sudah ibu istirahat saja semua pekerjaan rumah udah aku kerjakan kok’’

kataku sambil mengajak ibu istirahat.

“o..ya bu ada surat dari kak Leo”

“Leo…!!!, ibu kangen pada kakakmu mudah-mudahan kehidupan disana lebih baik dari pada kita”          lalu kucoba kirim balik surat itu.

Kepada kakakku tersayang

Assalamualaikum,

surat dari kakak baru saja sampai lalu kumulai tulis surat ini ibu titip salam ibu akan selalu mendoakan kakak agar kakak diterima di perguruan tinggi yang kakak tuju.  O..ya kabarku dan ibu baik-baik aja kok, semoga kakak dalam lindungan Allah bagaimana dengan keadaan keluarga disana?? Salam juga ya kak untuk ayah aku kangen padanya aku dan ibu akan selalu sayang dan menghormatinya..…  Wassalamualaikum

Rifky

JJJ                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

Sebulan lamanya tlah berlalu Alhamdulillah aku naik kelas dengan nilai yang cukup. Aku memilih jurusan bahasa, pelajaran dikelas tiga ini akan lebih sulit bila dibandingkan dengan sewaktu dikelas satu dan dua. Ibu selalu mendoakan dan mendukung segala kegiatan positifku di sekolah aku selalu diikutkan dalam setiap perlombaan.   Alhamdulillah pada perlombaan  membuat karangan dengan bahasa perancis aku dapat juara walaupun hanya dapat juara tiga.

Segala aktifitasku selalu didukung ibu. Sebelumku mengikuti suatu kegiatan aku selalu minta persetujuan ibu, ibu pun selalu memperbolehkannya asalkan kegiatanku itu tak mengganggu pelajaran di sekolah tapi jika kegiatan itu memerlukan biaya lebih aku sengaja tak mengikutinya, karena aku sangat prihatin pada keadaan  perekonomianku saat

ini, aku tak sanggup merengek kepada ibu untuk minta uang tambahan.

Untuk Rifky dan ibu

Kabar kakak sekeluarga baik-baik saja. Alhamdulillah karena doamu dan ibu, kakak berhasil mendapatkan nilai baik dan lulus mengikuti UMPTN hasilnya kakak dapat masuk keperguruan tinggi negri dan kakak mengambil jurusan kedokteran,   bagaimana sekolahmu baik-baik aja kan?kamu mengambil jurusan apa? Kakak tebak pasti kamu ambil jurusan sastra bahasa iya kan? Karena sejak kamu kecil kamu ingin sekali mengetahui bahasa-bahasa mancanegara.  Mudah-mudahan kamu dan ibu selalu sehat ,  o..ya hampir lupa salammu dan ibu udah kakak sampaikan kepada ayah tapi ayah hanya diam saja udah dulu ya lain kali kita sambung lagi salam sayang dari Leo untuk ibu.

Leo

Surat itu sampai setelah sebulan berlalu aku tau pasti kakak sangat sibuk untuk terus belajar aku sangat bangga pada kakak ia selalu berhasil, ia sekarang mengambil jurusan kedokteran memang sejak kecil ia punya cita-cita mulia yakni membantu menyembuhkan orang yang sakit.

Udara yang sejuk ini membuatku sangat senang. Aku bersyukur dilahirkan di desa yang permai ini. Hujan deras mengguyur desaku selama tiga hari akibatnya terjadi tanah longsor untunglah tak ada korban jiwa, hanya saja rumah-rumah penduduk menjadi hancur tertimbun tanah para penduduk hanya bisa pasrah karena semua itu adalah kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

JJJ

Untuk Rifky dan ibu

Rif kakak kangen sekali padamu dan ibu mudah-mudahan keadanmu disana lebih baik dari pada aku disini maaf baru kali ini kakak kirim surat lagi,  kakak sangat sibuk dengan tugas-tugas yang harus kakak selesaikan kapan kamu dan ibu ke Jakarta akan kakak tunggu loh!!!

Leo

Surat ketiga dari kak Leo selalu saja ia tulis singkat, kapan aku ke Jakarta? Entahlah aku tak lagi memikirkannya, banyak yang harus kupikirkan dari pada keinginan pergi ke Jakarta.  Karena kesibukanku surat dari kakak tak ku balas lama sekali tak juga ada kabar dari kak Leo  sangat lama. Sekarang aku sudah mulai tak tertarik menulis surat untuk kakak paling-paling balasannya sangat singkat padahal aku ingin tau lebih dari yang kakak kabarkan.

Ibu sakit keras aku tak tau harus berbuat apa aku ingin mengajaknya berobat tapi ia selalu menolak lagi-lagi masalah uang.  Hhhh…. andai aku punya uang cukup tapi nyatanya sekarang untuk makan saja masih sulit aku tak bisa membiarkan ibu terus-menerus menderita karena sakitnya.  Tergerak hatiku ingin memberi kabar kepada kakak kalau ibu sedang sakit sayang tak ada balasan mungkin ia sibuk atau kakak marah, ah…tapi itu tak mungkin cuma karena sudah lama tak kirim surat  sampai-sampai kakak tak beri kabar.

Akhirnya aku bekerja di bengkel tetanggaku pak Halim, walaupun upah yang kudapat tak besar yang penting aku bisa membantu mengumpulkan uang untuk makan dan mengajak ibu berobat. Aku sudah senang dapat pekerjaan ini dan mendapatkan uang dari hasil jeri payahku sendiri sebentar lagi aku harus mengikuti ujian akhir nasional tapi biaya untuk itu tak memadai apalagi kondisi ibu bertambah parah.

Pak Halim menyarankan untuk mengajak ibu berobat ke dokter. Ia pun berbaik hati memberi uang untuk pengobatan ibu, tapi sayang setelah beberapa hari ibu dirawat tak juga kelihatan keadaan yang membaik akhirnya ibu panggil oleh Yang Maha Kuasa. Aku  tak bisa menahan rasa sedihku sekarang, aku sendiri tak punya siapa-siapa, aku tak tahu harus berbuat apa tanpa ibu, aku putus asa didalam kesedihanku.

Pak Halim membantuku selama ini sampai-sampai ia membiayai ujian sekolahku sampai akhir aku tak bisa terus bergantung padanya, aku harus bangkit mandiri. Pak Halim selalu menasehatiku ia menganjurkan agar aku menemui sanak saudara yang berada di Jakarta. Dengan berbekal uang seadanya aku nekat pergi ke Jakarta untuk menemui kakak dan ayah, perjalanan yang jauh dan sangat melelahkan.

Di desa ini jarang sekali mobil berlalu-lalang dengan naik mobil omprengan milik pak Halim aku menuju pasar kenteng yang jaraknya cukup jauh. Sesampainya aku naik bis kecil menuju Sentolo aku agak sedikit ragu karena aku sama sekali tak pernah ke Jakarta alamat kakak yang ada di amplop surat sedikit mempersulit jalanku. alamatnya ditulis tak lengkap nomor rumah pun tak ia bubuhkan setelah sampai di Sentolo aku naik bis malam yang sesak oleh penumpang menuju Jakarta, kurang lebih 14 jam aku berada di dalam bis.  Setelah sampai di Jakarta daerah yang asing bagiku. Aku sangat bingung melihat semuanya tak tau arah mana yang harus ku tuju agar sampai rumah kakak.

Tiba-tiba seseorang yang berbadan besar dengan tato ditangan dan tindikan ditelinga menepuk bahuku.

“eh, loe jangan celingak-celinguk aja cepet serahin dompet loe”

“maaf mas, saya gak ngerti maksud mas”

“eh, jangan pura-pura bego cepet serahin kalo nggak gue bunuh!!”

Rupanya ketiga orang yang tak bersahabat ini mencoba menodongku. Aku mulai ingat apa yang pernah ibu bilang ternyata benar seperti inilah kehidupan keras di Jakarta aku tak bisa melawannya badannya yang tinggi besar membuatku ciut mereka terus saja mendesakku menyerahkan uang seratus ribu satu-satunya yang aku punya dan sebelum pergi mereka memberikan bogem mentahnya kemukaku.

Setelah kusadar baru ku ketahui aku berada dipinggiran terminal Pulogadung. Untunglah ada seorang bapak tua yang berbaik hati menolongku setelah kuceritakan semua yang kualami ia mau membantuku mencari rumah kakak.

“maaf  nak  saya  cuma bisa  bantu  kamu  sampai disini karena banyak pekerjaan

yang harus bapak kerjakan’’

“iya  pak,  tak  apa  terimakasih  atas  bantuan  bapak”  jawabku  sedikit  kecewa

padahal belum kutemukan rumah kak Leo.

JJJ

Aku memberanikan diri bertanya pada banyak orang yang kutemui dijalan. Sudah  berjam-jam tapi alamat yang dituju belum kutemui. Akhirnya aku coba bertanya pada seorang rukun warga setempat setelah bercakap-cakap cukup lama Alhamdulillah ia mau membantuku.

Rumah yang kutuju cukup jauh dari rumah seorang rukun warga setempat. Ternyata rumah kakak cukup besar dengan halaman rumah yang luas aku sedikit kaget saat mencoba masuk dari pintu gerbang itu entah mengapa tubuhku gemetar jantungku berdegup kencang melihat banyak orang yang berada dirumah kakak hatiku bertanya-tanya ada apa sebenarnya, sekeliling rumah terpasang bendera kuning bendera yang melambangkan kesedihan. Dalam hatiku aku selalu bertanya-tanya siapa? Siapa yang meninggal? Di rumah itu tak kutemui kakak maupun ayah, seorang ibu berkerudung hitam dan sedang menggendong anak kecil mencoba mendekatiku.

“kamu Rifky?”  tanyanya dengan suara lembut.

“iya”        hanya kata itu yang dapat kuucapkan, mulutku seperti terkunci dan aku

hanya berdiri mematung dihadapannya.

“kamu harus tabah ya!!!”   katanya sambil memberi sepucuk surat dan berlalu dari hadapanku ternyata surat itu dari kak Leo. surat yang  ditulis dua minggu yang lalu tapi tak sempat dikirimkan kealamatku, lalu kucoba membuka surat itu dengan tangan yang masih gemetar.

Teruntuk Rifky dan ibu

Maaf Rif, baru kali ini kakak tulis surat untukmu setelah cukup lama.  Kabarku disini tak baik maaf selama ini aku berbohong dengan keadaanku. sebenarnya keadaanku selama ini tak baik aku sangat terpukul saat ayah memutuskan bercerai dengan ibu. aku sedih, aku rindu saat-saat bahagia bersamamu dan ibu. ingatkah kamu saat kita bersama dihari lebaran kita nyalakan kembang api bersama-sama, berenang disungai bersama, bermain, belajar, dan semuanya kita lakukan bersama.  Aku memang bodoh kau pantas mencaci maki kakakmu ini, kehidupanku disini tak bahagia setelah ayah bercerai

dengan ibu, ayah sudah tak memperhatikan aku lagi. ayah lebih menyayangi keluarga barunya terlebih kepada tante Rini yang sekarang jadi ibu tiriku.  Aku memang berhasil mendapatkan perguruan tinggi yang kutuju dan mengambil jurusan kedokteran tapi sama sekali tak membuatku bahagia, aku sangat senang jika kamu berhasil mendapatkan jurusan bahasa.

Tapi jika kamu gagal janganlah kecewa dan berkecil hati jangan seperti kakakmu yang lemah ini kamu harus bangkit.  Aku sangat kangen sama kamu juga ibu tapi akupun tau kita tak akan bersama-sama lagi ini surat terakhir yang kutulis untukmu.

Rif bagaimana kabar ibu apakah sudah lebih sehat?, bagaimana kabar sekolahmu?, bagaiana kabar semuanya yang selama ini tak ku ketahui?.   Tapi sangat disayangkan Rif pertanyaanku selama ini tak kan kuketahui jawabannya bukan karena kau yang tak memberitahuku, tapi semua ini karena aku sendiri ini surat terakhir dariku selanjutnya tak kan ada surat-surat berikutnya lagi, karena mungkin saat kau baca surat terakhirku ini aku sudah tiada.

Aku sudah meninggalkan dunia ini, yah…aku memang sangat bodoh tak seperti kamu yang tegar manghadapi masalah.  Mungkin kamu bertanya mengapa aku

sepengecut ini, karena aku sangat terpukul saat ayah dan ibu bercerai ayah menikah lagi aku merasa tak diperhatikan lagi ayah mulai sering memukulku bila marah.

Aku memang bodoh kuakui semua itu sejak saat itu aku bergaul dengan orang yang sama pengecutnya seperti aku, aku mulai bergaul dengan obat-obatan terlarang karena obat itu aku jadi mulai ketergantungan mungkin ayah tak tau selama ini ayah jarang memberiku uang untuk apa yang kuinginkan

jangankan untuk membeli obat-obatan itu untuk membayar kuliah saja ayah jarang memberi karena itu pula sekarang aku jadi pengedar narkoba dikalangan mahasiswa. dulu kupikir tanpa narkoba hidupku tak berguna lagi kupikir hanya narkoba yang dapat membuatku bahagia ternyata tidak Rif .

Jangan seperti diriku yang lemah dan bodoh gapailah cita-citamu walaupun setinggi bintang tapi jangan kamu putus asa jika yang kamu cita-citakan tak tercapai.  maaf kan aku Rif, maafkan aku ibu. kau boleh terus mencaci makiku tapi jangan kau membenciku karena  aku tetaplah kakakmu salam sayang juga untuk ayah, maafkan aku juga tante Rini, jangan lupakan aku walau aku telah mengecewakanm. Sekali lagi untuk yang terakhir kali maafkanlah aku…

Leo

Degupan jantungku semakin kencang. Tak kusangka ternyata kak Leo lebih menderita dibandingkan aku,  kak Leo memang bodoh kakak lemah sekarang aku tak punya siapa-siapa lagi ibu tlah tiada kak Leo pun meninggalkanku.  Mengapa semua ini terjadi padanya. Ya Allah mengapa kak Leo sepengecut itu aku sama sekali tak mengira kalau kakak akan berbuat seperti ini. Kak Leo yang ku banggakan kak Leo yang punya cita -cita tinggi ternyata sangat lemah.

Kak Leo meninggal dengan cara yang salah ia over dosis karena narkoba aku ikut mengurus kepergian kak Leo ke alam barzakh. kulihat ayah termenung sendiri dipojok ruangan terlihat sedih yang mendalam. Dari matanya aku tahu ayah sangat menyesal atas kejadian ini. Hatiku pun sangat terluka karena setelah baru saja ditinggal pergi sang ibu tercinta, sekarang kakakku yang amat kusayang pergi meninggalkanku. Narkoba telah merenggut nyawanya sungguh menyedihkan.

*****

Hesti Christiani

Rabu 13-Juli-2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s