Yasmin

Posted: Oktober 1, 2009 in CerPen''Quwh

YASMIN

“Hallo, Assalamualaikum sayang kamu sudah sampai Surabaya atau belum?”

“sudah mah,”. Jawabku lemas dan langsung menutup Hpku.

Tak pernah ku bayangkan akan tinggal dikota besar ini. Tanpa papa, tanpa mama, juga tanpa Seli adikku yang baru berusia 10 tahun.  Memang rumah ini gak jelek-jelek amat, hanya saja kurang terawat halamannya cukup luas, lebih luas 2 kali dari pada halaman rumahku di Jakarta, rumah ini besar dengan gaya arsitek di jaman Belanda, rumah ini warisan eyangku yang tlah lama tiada. Aku pun tak tau bagaimana wajahnya aku memang harus hidup mandiri disini dirumah besar ini, aku hanya ditemani bi Inah & pakde Sastro.

Bi Inah pembantuku yang tlah lama bekerja di rumahku dan sejak aku kecil ia yang merawatku. Wajahnya mulai menua dimakan usia, wajahnya mulai keriput dengan kantung mata yang besar ia sangat baik padaku begitu juga pakde Sastro. Sebenarnya aku masih kesal pada papa. Ughh…menyebalkan masa’ anak gadisnya malah disuruh hidup mandiri tanpanya, papa bilang “kamukan sudah dewasa jadi kamu harus bisa hidup mandiri jangan mengandalkan orang lain” begitu katanya sebelum mengantarku ke Airport, apanya yang orang lain aku ini kan anaknya, entahlah…apa aku bisa bertahan disini tanpa orang tua dan tanpa hidup serba kecukupan tak ada restoran didekat sini bahkan warteg dan warung pun tak ada kalaupun ada mesti naik kendaraan yang lumayan jauh dari sini.

“kring…kring…” dengan cepat ku angkat telepon di dekat tempat tidurku.

“Assalamualaikum, sayang tadi kenapa dimatiin Hpnya kamu marah sama  mama?”

“marah..!!, untuk apa marah?? Buang-buang tenaga aja.”  jawabku ½ jengkel.

“ya sudah, papa bilang besok papa akan daftarkan sekolah buat kamu”

“Ooo… gitu udah ya mah aku capek nih..!!!”

Mama aku sebel banget kenapa sih aku harus tinggal disini. jarak Surabaya-Jakarta kan jauh disini sepi aku slalu merinding kedinginan ugh…dingin.

“non, lampunya nggak nyala nih”.    Kata bi Inah mengejutkanku.

“yah bibi gimana donk masa’ malam ini mesti gelap-gelapan”

“iya non, tapi gimana ya bibi gak ngerti masalah listrik-listrikan, kalo harga cabe  sih bibi tau non. mana pakde Sastro belum dateng lagi, tapi jaman ini sih masih lebih bagus dari pada dulu, kalo dulu bibi kecil belajarnya aja pake lampu semprong belum lagi  kalo minyaknya habis”

aku hanya tertawa kecil mendengarkan omongan bibi.

“tapi jaman ku ini beda jauh sama jaman bibi kecil. aku mana betah ngerasain   kayak gini”        jawabku sambil terus mencari lampu semprong.

“dimana sekolahnya ya bi? Sejak berangkat kesini aku gak liat bangunan sekolah”

“iya non, bibi juga gak tau kata Tuan jarak rumah ini ke sekolahan  lumayan jauh loh”

“duh terus gimana masak aku mesti jalan kaki ugh…aku tersiksa nih aku gak betah pokoknya besok aku mau pulang ke Jakarta”

JJJ

“papa,!!! Pokoknya aku gak betah tinggal disini, aku mau pulang titik!!!.”

“sayang, kamu harus  tinggal  disini,  disini lebih baik dari pada tinggal di Jakarta,

disana kehidupannya  keras nak!!  pergaulannya  juga  melewati  batas  pokoknya

kamu harus tinggal disini”

“nggak…nggak!!! gimana dengan sekolahku? masa’ apa papa tega membiarkanku

jalan kaki ke sekolah??”

“nggak donk sayang, pokoknya nanti kamu diantar jemput sama pakde Sastro”

“apa!!! dengan mobil butut itu!!!”

“mobil   itu   mobil   antik   sayang,  mesinnya  masih  bagus mobil itu  kan  mobil

kesayangan  eyang.  Kalo  dijual  pasti  harganya mahal apalagi jika dijual

kepada kolektor mobil-mobil antik”

“ya  sudah  lebih baik dijual saja!!, mobil  butut  seperti  itu dibilang antik dari segi

mananya pa? dari pada aku naik mobil itu, lebih baik aku jalan kaki”

“sudah…sudah, sekarang papa akan daftarkan ke sekolah favorit di kota ini”

Di perjalanan aku terus saja menggerutu, nggak peduli papa dengerin aku atau nggak yang penting papa tau kalo aku gak suka tinggal disini. Moga-moga  aja papa berbaik hati dan tidak jadi menyekolahkan ku disini,  diperjalanan yang aku lihat hanya rumah-rumah tua dengan pohon-pohon besar semakin menambah suasana angker saja.

Mobil  butut  ini  melewati  pagar  yang  sangat  tinggi  di depan sekolah  terpampang  papan nama ‘SMA GEORGINE’ bangunan sekolah terlihat tua  dan  kusam apanya yang disebut  sekolah favorit dimana  letak  keindahannya

disekitar bangunan sekolah ini banyak sekali pohon-pohon tinggi. Aku heran kenapa siswa disini betah belajar dengan keadaan yang kulihat buruk. aku tak melihat satu pun yang terlihat modern, dari mobil-mobil, motor, sepeda yang entah milik siapa semuanya butut bagiku.

“apanya  yang  bagus  dari  sekolah  ini  pa?  lebih  baik  di  Jakarta semua fasilitas

lengkap disana”

“eh  kamu  jangan  salah,  sekolah  ini  sekolah  ternama  dijamannya hanya orang-

orang   terpandang  saja  yang  bisa  bersekolah  disini,  dulu  eyangmu  juga  ber-

sekolah disini. Sekolah  ini  banyak  melahirkan  generasi yang  hebat!!, lihat  saja

bangunannya jelas sekolah ini buatan jaman belanda”

Selalu saja dikait-kaitkan dengan jamannya. Jelas bagiku dijamannya tentu saja hebat mungkin saja cuma ada satu sekolah pada jaman itu, ya barangkali cuma sekolah ini saja.   Memang sih walaupun gedung ini terlihat sangat tua gedung ini kokoh dengan tingkat tiga lapangan yang luas tapi, jika dibandingkan dengan sekolahku dulu aku lebih memilih sekolahku di Jakarta. Mantan  sekolahku dulu keren gedungnya tingkat tiga dengan dua lapangan olahraga, lapangan upacara, aula yang besar dan sebuah bangunan yang paling kusukai yaitu mesjid yang lantainya bersih dan terawat. Gurunya  saja menyandang gelar sarjana, sayang…papa terlalu khawatir dengan pergaulan disana.

“oya siapa namamu nak?”   Tanya seorang yang sudah tua mengagetkanku

“èè…namaku Auliazahra”   jawabku sedikit gugup

“mudah-mudahan kamu betah sekolah disini, walaupun bangunannya sudah sangat

tua”

Nah itu nyadar.. batinku.

“iya pak semoga saja”     jawabku pelan sebenarnya sih tidak.

“besok kamu sudah boleh masuk sekolah”   katanya lagi.

Menyebalkan, besok aku sudah mulai masuk sekolah padahal aku masih ingin bersantai di rumah peninggalan eyangku itu. Bagaimana  dengan teman-temanku apakah mereka bersikap baik denganku, bagaimana pula gurunya dan pelajarannya.

JJJ

“non, bangun non sudah pagi nanti terlambat masuk sekolah loh!!!”

Kaget!!! sinar matahari pagi menyilaukan mataku, aku lupa ini kan di Surabaya. gorden tua itu segera dibuka bi Inah.

“Astagfirullah…..aku belum shalat subuh”

Seusai shalat aku mandi, dinginnya udara pagi sampai ketulang rusukku, lalu aku cepat-cepat membereskan semua keperluan sekolahku.

“non, makan dulu nanti lapar loh,!!!”

“makasih bi, aku belum lapar kok”

“ayo papa antar anggep aja ini hadiah pertama kamu sekolah baru”

“ugh…papa emang nyebelin, bisa-bisanya meledekku apanya sekolah baru, pake mobil butut lagi!! aku malu, masa’ anak seorang pengusaha terkenal ke sekolah pake mobil butut. Apalagi aku ini adalah keturunan seorang yang terkenal dijaman dulu. Eyangku Raden Djoko Hadikusumo Djayadiningrat,!!!”

Tlah sampai gerbang sekolah hatiku tak seperti biasanya aku gemetar, jantungku berdetak cepat kenapa…?, kenapa aku jadi gemetar begini aku turun dari mobil butut ini papa tak mengantarku sampai kelas memang sih itu kemauanku. Karena aku  malu, apalagi dengan mobil butut itu.

Semua siswa melihatku aneh tapi kenapa? Aku tambah gemetar apa mungkin karena jilbabku ini, ah…tapi kurasa bukan karena jilbabku mungkin ada yang lain tapi, apa…?

Beberapa pasang mata terus melihatku, terlihat dari sorot matanya yang melihatku terheran-heran ada juga seseorang yang memberanikan diri mendekatiku.

“Yasmin..?”   tayanya pendek. Ia terus menatapku tapi aku hanya menggeleng. Aku terbengong-bengong ia pun juga, aku hanya diam saja tak keluar satu patah kata pun dari mulutku setidakknya hanya untuk menegurnya tapi, aku tak berani. Akhirnya   ia pun mundur selangkah demi langkah.

Mereka semua aneh, aku tak bisa terus-terusan begini sudah seminggu berlalu tapi aku belum mendapatkan teman satupun juga. Tak ada yang mengajakku berkenalan setidaknya menegurku lah, seakan seperti ada yang ditakuti dari diriku.

Ya Allah…mengapa semuanya aneh, Ya Allah bantulah aku dalam kebingunganku ini tidak hanya para siswa, guru pun seakan segan berkata-kata denganku tapi, hanya kepala sekolah saja yang bersikap biasa didepanku.

Hatiku serasa ingin berteriak sekeras-kerasnya. aku gak betah lagi dan juga mengapa semua siswa memanggilku dengan sebutan Yasmin padahal sudah aku tegaskan namaku Auliazahra bukan Yasmin. Siapa kah Yasmin itu ingin kutanyakan pada orang yang disebelahku tapi, sayang lagi-lagi aku tak berani.

“Hai….!!!”   Akhirnya ada juga yang lebih dulu menyapaku.

“maaf   ya,   mungkin   lo   heran   begitu   juga   kami.   Benarkah   namamu

Aa…uliazahra?”      tanyanya dengan nada ramah.

“ya.. benar, sudah berulang kali kukatakan namaku Auliazahra!!!, kenapa sih? apa

ada yang aneh dengan namaku?”

“ah.. nggak  maaf deh sudahlah jangan dipikirin memang teman-teman disini suka

aneh kalo ada siswa baru apalagi wajah lo….”

“kenapa wajahku?”

“wajah  lo  sangat  cantik,  oya  perkenalkan  nama  gue Samantha panggil aja San

kalo ada apa-apa tanya gue aja”

Aku terdiam masa’ sih hanya karena hal itu. Aku sama sekali gak percaya, aku ingin tau ada apa sebenarnya dengan teman-teman dengan guru-guru dan semuanya…

Bel berbunyi sangat nyaring memeka’kan telingaku.

“Lia loe nggak kekantin”    tanyanya ramah.

“nggak”   jawabku singkat sebenarnya aku mau. tapi, aku tak mau terus-terusan diperhatikan oleh semua orang.

Kepalaku terasa pusing, perutku sakit, aku lapar mataku juga berkunang-kunang, tubuhku lemas, aku tak kuat lagi Ya Allah andai ada yang mau menolongku.

“hai…bangun!!!”

“kenapa..? ada apa denganku?”

“loe pingsan di depan kelas loe pasti lapar, nih…”   katanya sambil memberikan rotinya untukku.

“terimakasih”   jawabku sekenanya.

“oya nama loe?”

“kenapa…kenapa kau tanyakan lagi namaku. Sudah  slalu kukatakan namaku Lia

lengkapnya Auliazahra kamu masih gak percaya??”

“maaf gue gak bermaksud….”     Kata-katanya terhenti ia diam seperti sedang memikirkan sesuatu, aku pun terdiam kami tak berbicara. Aku sedikit risih bicara pada orang yang belum kukenal. lalu ia pun mulai bicara lagi.

“nama gue Ryan kelas XI IPA 1 disebelah kelas loe”

“terimakasih ya, kamu mau bantu aku apalagi sampai kasih aku roti”

Ia hanya tersenyum melihatku aku sedikit terhibur. Akhirnya  ada juga yang mau membantuku.

Aku terus berjalan mengelilingi ruangan satu persatu siapa tau ada yang dapat ku temukan disini sebenarnya sekolah ini emang nggak jelek-jelek amat tapi sayang sepertinya kurang terawat coba kalau sekolah ini diperbaiki pasti akan terlihat lebih indah apakah Kepsek tak peduli dengan keadaan sekolah ini?.

JJJ

“San tadi loe ngomong sama dia ya?”

“iya kok loe tau”

“tadi gue liat loe ngomong sama dia, emangnya loe gak takut San?”

“nggak, gue tau dia bukan orang yang selama ini kita kira”

“tapi gue masih gak percaya dunia ini penuh dengan rahasia-Nya”

“iya Ton, loe bener  banget  pertama  gue  emang gak percaya tapi di dunia ini apa

sih  yang  nggak  mungkin,  gue  jadi  kasihan sama dia sampai saat ini belum ada

teman yang coba deketin dia”

“kenapa Yan loe kok diem aja?”

“tadi gue juga ngomong sama dia”

“terus…..”

“entahlah gue juga masih bingung”

“sayang……Yasmin…..”

“udah deh Ton, jangan ngomongin dia lagi”

“iya deh maaf”

“gue jadi kasihan sama dia”

“dia siapa?”

“plis Ton,  jangan buat gue kesel sekarang gue lagi ngomongin anak pindahan dari

Jakarta itu”

“iya deh maaf… iya  emang kasihan tuh anak dia seolah tau ada yang aneh dengan

semua ini”

“jadi rencana loe?”

“jujur  gue  gak  berani  cerita  jangan  kan gue, guru-guru aja gak ada yang berani

cerita”

“udahlah  yang  penting  kita  jangan  cerita  apa-apa  dulu  bersikap  biasa  aja  di

depannya”

“iya, Insya Allah gue akan berusaha tapi gimana dengan yang lain?”

“kita dulu yang mulai siapa tau yang lain jadi berubah”

“gimana dengan Edo? pasti dia juga sedih”

“gak   tau   ah,  loe  berdua  tau  kan  gimana  dia.  Gue  juga  tau  gimana  rasanya

kehilangan”

JJJ

Alhamdulillah makin lama aku jadi lebih tenang, mungkin aku saja yang selalu membesar-besar kan masalah. Lelah  hampir dua puluh menit aku menunggu tapi pakde belum datang menjemputku.

“hai loe belum pulang?”

“emm…belum, pakde belum jemput”

“kenalin nama gue Edo, ayo deh gue anterin rumah loe dimana?

“ah nggak, makasih sebentar lagi dijemput kok”

“ya udah kalo gitu gue duluan ya!!”    Edo yang baru kukenal tapi kelihatannya dia orang yang baik.

“Tin….Tin….Tin….”   bunyi klakson mobil bututnya eyang.

“duh… pakde darimana aja sih kok baru jemput, aku udah lama nunggu nihh..”

“maaf non Lia, habis tadi mobilnya mogok sih”

“tuh   kan  baru  dipake  sebentar  aja   udah  mogok   gimana  nanti   sebulan  lagi,

mungkin dua bulan lagi udah ancur kali!!!!”

“gimana non, udah ada temen kan?”

“Alhamdulillah udah pakde tapi anak-anak sekolah sini aneh-aneh”

“aneh…? aneh gimana non?”

“yah pokoknya aneh deh”

Obrolanku dengan pakde terhenti karena Hp ku bergetar. ternyata mama sebenarnya aku enggan menjawabnya tapi, siapa tau penting terpaksa…

“hallo Assalamualaikum sayang”

“Waalaikumsalam”

“gimana sekolahnya?”

“tanya aja deh sama pakde barusan aku ngomongin sekolah sama pakde”

“kok gitu sih sayang, mama kan tanyanya sama kamu”

“pokoknya gak ada yang asyik deh semuanya nyebelin”

“mungkin kamu belum bisa beradaptasi disana. Kalo  kamu dapat nilai bagus nanti

papa, mama juga Seli akan ajak kamu jalan-jalan deh”

“kemana mah?”

“ke kebun teh dan kopi milik eyang pasti kamu belum kesana kan?”

Ugh tega, mama gak tau apa yang diinginkan anaknya dikirain mau pergi kemana gitu tapi ternyata….pokoknya aku sebal..sebal…

“terserah deh mah udah ya, aku capek Assalamualaikum”

“eh..non, baru pulang makan dulu ya nanti sakit”  tanya bi Inah tiba-tiba.

“iya bi, sebenarnya aku udah pulang dari tadi kok cuma aja karena mobil bututnya  mogok aku jadi terlambat pulang”

Hari belum terlalu sore. Tapi, keliatannya gelap cuaca mendung menambah udara semakin dingin, hujan deras mengguyur kota Surabaya selama dua hari. Aku tak masuk sekolah karena keadaan tak memungkinkan. Jalanan tergenang air mobil bututnya eyang juga mogok lama-lama aku pun capek selalu menggerutu dengan keadaan ini setelah aku mengenal tiga  teman yang dekat denganku. Ton, Ryan, San yang manis, juga Edo ia baik denganku tapi orangnya agak tertutup aku kurang mengerti tentang dirinya ia termasuk keluarga terpandang. Jelas karena edo anak Kepsek sekolahku SMA GEORGINE hanya dia yang tak heran melihatku padahal yang lain terheran-heran melihatku walau sampai saat ini aku belum tau apa yang mereka rahasiakan dariku.

JJJ

“Ryan sebaiknya kita harus ceritain semuanya sama Lia”

“entahlah gue ragu”

“tapi kasihan dia”

“iya Yan,  takut terjadi  apa-apa sama dia, gue jadi takut kalo kejadian enam bulan

silam terjadi lagi”

“loe yakin berani?”

“Insya Allah gue akan usahain”

Lelah tak ada semangat untuk sekolah bagiku selalu membosankan prestasi belajarku menurun tak ada yang menghiburku kala aku sedih andai ada Seli disini.

“Lia gue yakin loe gak betah tinggal disini”

“iya Do aku gak betah tapi aku akan selalu berusaha”

“kamu gadis yang cantik Li,”

“terimakasih”   jawabku agak sedikit risih.

“loe mengingatkan gue pada seorang gadis”

“siapa dia?”    tanyaku penasaran

“ah…sudahlah semua akan gue pendam dalam-dalam walaupun sangat sulit sekali

buat gue”

Tanganku mulai gemetar hatiku berdegup kencang mendengarnya. Aku tambah yakin kalau ada sesuatu tentang semua ini akan kah ku ketahui segala misteri ini apakah ada sangkut-pautannya denganku???

JJJ

“Yasmin…eh maaf Lia kerjakan soal ini di papan tulis”

“iya pak”    Yasmin..!!, Yasmin lagi Yasmin lagi nama itu yang selalu membebankan pikiranku. Guru-guru selalu saja salah memangil namaku.

Istirahat 20 menit terlalu sebentar bagiku untuk menghilangkan penat. Hanya tempat ini yang kusukai. Yah…,Mushala mungil ini yang terasa sejuk dengan pohon rindang yang selalu melindungi dari terik matahari siang ini. Mushala ini selalu menjadi tempatku menghilangkan penat dan kegundahan dengan bersujud dihadapan-Nya, memohon pertolongan-Nya batinku menjadi lebih tenang.

Aku akan coba bertanya tentang hal yang selalu membuatku resah tapi bertanya pada siapa, siswa disini tak banyak yang dekat denganku sebenarnya mereka yang aneh atau aku.  Sampai-sampai tak ada yang berani berkata-kata denganku.

San oh iya San, aku akan coba bertanya padanya tentang semua ini kuharap dia mau membantuku aku coba mencari di sekitar kelas tapi tak kutemukan, lalu aku cari disekitar kantin tak juga kutemukan ia disana. Duh San kamu dimana sih tak peduli banyak siswa yang memperhatikanku sejak tadi aku terus saja mondar-mandir mencari sosok San aku sangat yakin dia tau semua ini. Aku harus tau tentang semua ini aku tak mau menjadi aneh diantara keanehan ini.

Hatiku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Alhamdulillah akhirnya kutemukan juga San disana aku mencoba mendekatinya dan seakan San tau apa maksudku.

“San….”   Teriakku

“San kumohon ceritain semuanya”

“Li, maaf gue gak tau apa-apa”

“San  cuma  kamu  yang  aku harapkan ceritain San, ada apa dengan semuanya dan

aku pengen tau siapa sebenarnya Yasmin itu”

Ia terdiam dan tertunduk aku tau jelas ia terlihat sedih. Matanya yang lembab  basah oleh air matanya tapi aku menunggunya sampai ia menceritakan semuanya padaku.

“baiklah gue akan ceritain semuanya Yasmin adalah sahabat gue dia sangat cantik,

ia  bunga  sekolah  ini  ia pintar,  ramah,  baik hati  dan juga ia sangat lugu gue tau

Ryan  dan  Edo menyukainya. Bagiku  Yasmin adalah sahabat terbaik bagi gue dia

selalu menghibur gue dikala sedih sayang, sekarang dia udah gak ada”

“maksudmu?”

“ya  Yasmin  tlah  tiada  ia  menghilang  entah kemana dugaan polisi ia diculik dan

dibunuh dan karena polisi kekurangan bukti akhirnya kasus ini ditutup”

“hah…Masya Allah siapa..?, siapa yang tega berbuat itu kepada Yasmin”

“gue  gak  tau  Li,  polisi  kekurangan  bukti-bukti  mengenai  Yasmin kedua orang

tuanya shock dan mereka meninggalkan kota ini dan pergi keluar kota”

“lalu apa hubungannya dengan ku?”

“saat loe datang ke sekolah ini semua siswa termasuk guru terheran-heran. Mereka

semua  menyangka  kalo  loe  adalah  Yasmin yang tlah lama menghilang ternyata

dugaan gue salah. loe bukan Yasmin seperti apa yang gue kira”

“kenapa semuanya berfikir kalo aku adalah Yasmin?”

“wajah  loe Li, wajah  loe  mirip  banget  sama  Yasmin.  Gue  juga  berfikir begitu

semua yang ada didiri loe mirip dengan Yasmin”  katanya dengan tambah menangis. Ia  meraba tas kecilnya dan mengambil sesuatu.

“ini dari Yasmin. Ini  fotonya pasti loe juga gak percaya kan ?”

“Masya Allah”     kataku sangat kaget saat melihat foto Yasmin.  Iya  dia memang mirip denganku aku sangat-sangat tak percaya dengan kejadian aneh ini.

Malam hari aku termenung sendirian Yasmin…ahh.. aku sudah kehilangan kata-kata mengenai Yasmin, Yasmin mirip denganku  sungguh sangat aneh aku tak percaya apa mungkin ini hanya mimpi?  Tidak…jelas ini bukan mimpi tapi, Nyata..!! semua ini nyata Yasmin mirip denganku.

Sore hari disekolah yang sepi aku sedikit jengkel pada pakde sudah lama kutunggu-tunggu tapi ia belum datang menjemputku. Tiupan angin kali ini lebih dingin sampai aku menggigil kedinginan.

“Li….”    Teriak seseorang dari kejauhan.

“Edo…!!!”     kataku pelan

“Li, loe udah tau semua tentang Yasmin?”

“ya… aku  tau  dari  San.  Tapi,  ia  tak  tau dimana sekarang Yasmin berada. Aku

kasihan  pada  Yasmin  kisah  hidupnya  memilukan,  jahat…!!!  Siapa yang tega

menculik Yasmin”

“kamu udah banyak tau tentang Yasmin tapi itu belum semuanya Li!,  apa loe gak

takut kalo ada orang berniat jahat sama loe?”

“apa maksudmu Do?  lagi pula kenapa ada orang yang akan menjahatiku?”

“yah itu karena wajah loe, semua orang berfikir kalo loe adalah Yasmin”

“dan apa yang kamu maksud kalo ada sesuatu lain yang aku belum ketahui?”     tanyaku penasaran Edo diam dan menatapku dengan perasaan curiga entahlah apa yang salah dari kata-kata ku kulihat ia marah padaku.

“maaf Do aku tak bermaksud membuatmu marah”

“ahh….sudahlah…”

“apa kamu sangat mengenal Yasmin?”

“tentu saja mungkin lebih daripada itu”

“jadi..?”

“gue sangat mengenalnya gue suka sama dia tapi sayang Yasmin sama sekali gak

pernah punya perasaan apa-apa sama gue dan itu yang buat gue benci sama dia!!!

“kenapa loe jadi benci?”

“gue cemburu banget sama Ryan dan di sekolah ini Yasmin dibunuh”

“bagaimana kamu tau Do? bukankah polisi hanya memperkirakan saja?”

“jelas gue tau, Yasmin  sekarang  udah  gak ada, dia udah mati. Guelah yang mem-

bunuh Yasmin!!!”

“Masya Allah…”  kataku tak percaya

“kamu bohong kan Do?”

“nggak Li gue gak bohong, emang gue yang bunuh dia gue benci!!!”  suaranya bertambah keras aku kaget mendengarnya, Edo menatapku dengan sorot mata yang penuh kebencian.

“jahat…!!!, aku sama sekali gak nyangka kamu sejahat itu Do, ternyata kamulah orangnya, kamulah yang membunuh Yasmin. Kamu tega sampai membunuh orang yang padahal kamu suka”

“biar…!!, biar aja karena dengan membunuh Yasmin sakit hatiku terobati tak ada lagi persaingan antara gue dengan Ryan tapi semenjak loe datang, gue jadi inget Yasmin orang yang udah nyakitin hati gue, Ryan selalu perhatiin loe gue benci Ryan, gue gak mau Yasmin jadi milik Ryan. Yasmin harus jadi milik gue begitu juga loe daripada loe jadi milik Ryan lebih baik loe mati ditangan gue,!!!”

“sadar Do!! Istigfar…aku bukan Yasmin aku gak tau apa-apa tentang kejadian ini”

Aku lari terengos-engos, dengan sekuat tenaga aku lari menghindari Edo, Edo gila hanya karena Yasmin menolaknya ia tega membunuh Yasmin. Aku kelelahan tapi Edo masih terus mengejarku.

“Ya  Allah  tolonglah aku,  Edo kamu nggak akan dapat apa-apa setelah membunuh

Yasmin tapi kamu akan selalu dihantui rasa bersalah, jangan melakukan hal bodoh

lagi Do…!!!”

“udahlah Li percuma loe merengek di depan gue lebih baik loe gue habisin”    serunya menciutkan keberanianku aku hanya bisa Istigfar dan meminta pertolongan semampuku. Aku terus berlari tapi akhirnya aku terjatuh Edo memegang tanganku ia hendak membunuhku terlihat dari sorot matanya hanya dendam yang mempengaruhinya. Apakah ini akan jadi akhir dari segalanya…

“ku  mohon  Do  lepaskan  aku, kamu memang bodoh benar Yasmin lebih memilih

Ryan.  memang  karena  Ryan  lebih  baik  daripada  kamu.  Itulah  yang membuat

Yasmin  gak  punya  rasa apa-apa kepadamu, kamu orang yang tak bisa menerima

kekalahan,!!!”

“Diaaamm…”  Ia berteriak suaranya memekakkan telinga aku mendorongnya dengan sekuat kemampuanku di ruang aula inilah Yasmin terbunuh, Edo terjatuh lemas ia seperti tak berdaya lagi. Terdengar jeritan lirih yang menyayat hati ia terus memanggil-manggil nama Yasmin.

“Yasminnnn…Yasminnnn, maapin gue….” Kata Edo lirih.

Aku terus berlari walau rasanya tak kuat lagi, tak peduli kakiku menginjak serpihan kaca jendela ruang perpustakaan. Ah…kakiku lemah aku merintih kesakitan badanku mulai gemetar  tapi aku harus terus berusaha, aku harus kuat aku harus meminta pertolongan tapi kemana? Dikegelapan malam sang rembulan yang menyinariku. Ditengah kebingunganku aku teringat pada San ia berjanji akan menolongku saatku membutuhkan pertolongannya. Aku terus berusaha mencapai rumahnya dengan berjalan pelan karena aku sangat kesakitan kakiku terus saja mengeluarkan darah dari kejauhan aku terus memanggil-mangil San.

“Saaaann…”  teriakku dengan suara yang sudah kehabisan energi.

“Masya Allah Lia,!! Loe ngapain Li malem-malem begini?” aku memeluk San.

“San  tolong  aku San,!! Aku  tau siapa yang membunuh Yasmin,  Edo..Edo yang

telah membunuh Yasmin ia juga berusaha membunuhku, aku takut San”

“dimana sekarang dia Li?”

“ia ada di aula sekolah San”

Setelah itu aku tak sadarkan diri. San menceritakan kepada polisi tentang apa yang terjadi aku sangat shock atas kejadian ini, polisi dengan cepat mendatangi sekolah tua itu polisi menemukan sesosok laki-laki sudah tak bernyawa, yah.. itu Edo ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tragis ia menyayat pergelangan tangannya dengan pisau.

Aku tersadar mama memelukku, mama baru saja sampai Surabaya. Polisi juga menemukan tubuh Yasmin yang telah dibunuh enam bulan lalu aku juga bertemu dengan kedua orang tua Yasmin mereka terlihat sangat sedih dan hanya bisa menangis histeris.    Sekolah tua itu akhirnya ditutup. Pak Kepsek yang juga ayah Edo ditahan, ternyata ia juga terlibat dengan kasus ini. Ia menyembunyikan kejadian mengerikan ini selama enam bulan tapi akhirnya perbuatan jahatnya terbongkar juga.

“sungguh Li, gue gak nyangka Edo bisa senekat ini. Gue kira selama ini kita bersaing secara sportif untuk mendapatkan Yasmin ternyata tidak! Edo dendam sama gue, Yasmin yang jadi korbannya. Loe yang gak tau apa-apa juga jadi ikut terlibat”

“iya Yan, kisah Yasmin memilukan”

“gue juga ikut prihatin atas kejadian ini. sabar ya Li…”

“makasih Ton”

Papa takut kejadian ini membuatku lebih trauma, papa mengajakku kembali ke Jakarta sebelumku kembali ke Jakarta aku berpamitan dengan Ton, Ryan juga San karena selama inilah mereka bertigalah yang telah banyak membantuku.

“Li loe bener-bener mau balik ke Jakarta?”

“iya San aku sangat shock atas kejadian ini”

“mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi dilain waktu”

“iya San, aku pasti sangat merindukan kalian”

“Li, bolehkah gue minta sesuatu sebelum loe pergi?”

“ya apa itu Yan ?”

“gue pengen banget panggil loe dengan nama Yasmin”

“ya boleh”    jawabku lemah, aku memeluk San, aku tak dapat menyembunyikan tetesan air mataku begitu juga San.

“Yasmin boleh kan kita main ke Jakarta….?”  Tanya Ton sambil melambaikan tangannya.

“iya tentu saja aku akan selalu menunggu kalian…”

Dengan kejadian ini aku banyak mendapatkan hikmah dan pelajaran yang sangat berharga.

*****

Hesti Christiani

Senin 20-juni-2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s